Enam Faktor Mengapa Uang Mudah Dikeluarkan dan Sulit Dikumpulkan

rm
0


Dalam Islam uang memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan kita. Namun, bagi banyak orang, tantangan terbesar bukanlah hanya menghasilkan uang, tetapi juga mengelola dan mengumpulkannya dengan bijak. Allah SWT pun memerintahkan agar kita menghemat dan sangat membenci orang yang berlebih-lebihanSebagaimana disebutkan dalam firman-Nya di Alquran surah Al-Ar’af ayat 31 yang berbunyi:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Artinya: “Dan makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah kalian berlebihan. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al-Ar’af: 31).


Lalu, mengapa begitu banyak orang merasa bahwa uang mudah dikeluarkan dan sulit dikumpulkan? Karena ada banyak faktor-faktor psikologis, sosial, dan ekonomi yang memainkan peran penting dalam permasalahan ini. Setidaknya, ada enam faktor yang menyebabkan orang merasa bahwa mudah dikeluarkan dan sulit dikumpulkan. Pertama,Konsumsi Konsep dan Kebiasaan KonsumtifDunia modern dibanjiri oleh iklan dan pesan-pesan yang mendorong konsumsi. Masyarakat sering diekspos pada gaya hidup yang diperlihatkan oleh selebriti dan sosial media. Kebiasaan konsumtif yang merangsang dorongan untuk membeli barang-barang yang mungkin tidak diperlukan dapat menghambat upaya untuk mengumpulkan uang.


Kedua, Gratifikasi Instan dan Penundaan KepuasanDalam era teknologi dan e-commerce, kemampuan untuk membeli hampir semua yang diinginkan bisa dilakukan dalam hitungan detik. Kemudahan ini membuat orang cenderung memilih gratifikasi instan daripada menabung untuk tujuan jangka panjang. Penundaan kepuasan, atau kemampuan untuk menahan diri demi keuntungan di masa depan, sering kali sulit diterapkan dalam dunia yang penuh dengan keinginan seketika.


Ketiga, Tekanan Sosial dan Perbandingan SosialTekanan dari lingkungan sosial, teman, dan keluarga dapat memengaruhi perilaku keuangan seseorang. Kita cenderung membandingkan diri kita dengan orang lain, dan jika melihat orang lain membeli barang-barang mewah atau menjalani gaya hidup yang mahal, kita mungkin merasa perlu untuk mengikuti pola tersebut, bahkan jika itu berarti mengeluarkan lebih banyak uang.


Keempat, Kurangnya Pendidikan KeuanganKurangnya pemahaman tentang bagaimana mengatur keuangan pribadi, membuat anggaran, dan berinvestasi dengan bijak dapat mengakibatkan pengeluaran yang tidak terkontrol dan tabungan yang sulit diakumulasi. Pendidikan keuangan yang kurang dapat membuat orang tidak menyadari dampak jangka panjang dari keputusan keuangan mereka.


Kelima, Emosi dan PengeluaranKeputusan keuangan sering kali dipicu oleh emosi. Belanja bisa menjadi bentuk pelarian dari stres, kecemasan, atau bahkan kebahagiaan sementara. Pengeluaran berdasarkan emosi ini dapat mengarah pada pengeluaran yang tidak terencana dan menghambat upaya untuk mengumpulkan uang.


Keenam, Perubahan Ekonomi dan Biaya HidupFaktor ekonomi seperti inflasi atau kenaikan biaya hidup dapat mengurangi daya beli kita. Jika biaya hidup meningkat, sulit untuk mengumpulkan uang karena sebagian besar pendapatan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Setelah kita mengetahui faktor-faktornya, maka kita harus menjadi orang yang bisa mengelola uang dengan bijak. Keterampilan mengelola uang sangat penting dan perlu dikembangkan. Faktor-faktor psikologis, sosial, dan ekonomi dapat membuat uang terasa lebih mudah dikeluarkan daripada dikumpulkan. Namun, dengan kesadaran akan faktor-faktor ini dan usaha untuk mengatasi mereka, kita dapat membangun kebiasaan yang lebih bijak secara finansial. Pendidikan keuangan, pembuatan rencana anggaran, penekanan pada tujuan jangka panjang, dan kemampuan untuk menahan diri dari konsumsi instan adalah langkah-langkah penting dalam mencapai kestabilan keuangan yang lebih baik.


Penulis adalah Siti Rahmah Mahasiswa STEI SEBI, 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)