Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong peningkatan porsi saham yang beredar di publik atau free float emiten. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat kualitas pasar, meningkatkan likuiditas, serta menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor.
Layar-layar perdagangan di sebuah perusahaan sekuritas di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026) mulai dipenuhi warna. Hijau dan merah silih berganti, mencerminkan denyut pasar yang belum sepenuhnya menemukan arah. Para trader ritel menatap grafik dengan saksama, sesekali berdiskusi singkat, seolah mencoba membaca pesan di balik setiap pergerakan angka.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, pasar modal Indonesia sebenarnya sedang berada di persimpangan penting. Bukan semata soal naik-turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), melainkan tentang perubahan struktural yang perlahan disiapkan regulator: arah baru kebijakan free float emiten.
Pada perdagangan Rabu (4/2/2026), IHSG bergerak dua arah dan masih bertahan di kisaran level 8.000. Data RTI mencatat IHSG dibuka di zona merah dan sempat menyentuh level terendah 8.101,86. Beberapa menit berselang, indeks kembali merangkak naik. Hingga pukul 09.05 WIB, IHSG tercatat di level 8.124,5, menguat tipis 0,02 persen atau sekitar 1,92 poin.
Fluktuasi ini terjadi ketika pasar modal Indonesia memasuki fase penyesuaian yang krusial. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong peningkatan porsi saham yang beredar di publik atau free float emiten. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat kualitas pasar, meningkatkan likuiditas, serta menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor.
Bagi regulator, kebijakan free float bukan sekadar urusan teknis kepemilikan saham. Ia menyentuh fondasi kepercayaan investor dan daya saing Indonesia di kancah global. Pjs. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa peningkatan free float diarahkan untuk membangun emiten dengan kapitalisasi yang lebih kuat sekaligus mengurangi kerentanan pasar terhadap praktik manipulasi harga.
Dalam struktur kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi, pergerakan saham kerap tidak mencerminkan kondisi fundamental perusahaan. Di sinilah free float memainkan peran krusial sebagai penyeimbang mekanisme pasar.
Selain aspek stabilitas, kebijakan ini juga menyasar peningkatan likuiditas. Saham dengan porsi publik yang lebih besar dinilai lebih aktif diperdagangkan, sehingga memperbaiki efisiensi harga dan memperluas basis investor. Pada saat yang sama, transparansi dan kepercayaan investor diharapkan ikut menguat, seiring meningkatnya kontrol publik terhadap perusahaan terbuka.
Menariknya, arah kebijakan ini tidak berdiri sendiri. OJK menegaskan langkah tersebut selaras dengan praktik internasional dan ekspektasi Global Index Providers, yang menjadikan tingkat free float sebagai indikator utama dalam menilai kualitas pasar serta perhitungan indeks global.
Artinya, kebijakan ini juga membawa implikasi strategis terhadap peluang saham-saham Indonesia untuk semakin diperhitungkan dalam indeks global, yang selama ini menjadi magnet utama aliran dana investor institusi asing.
Meski demikian, OJK menyadari kebijakan ini menyentuh kepentingan besar emiten dan pasar. Karena itu, implementasinya dirancang secara bertahap dan terukur, dengan prinsip kehati-hatian yang tinggi. OJK dan BEI akan terus memantau kesiapan masing-masing emiten, kondisi pasar, hingga kapasitas penyerapan investor terhadap potensi tambahan pasokan saham yang muncul dari peningkatan free float.
Pendekatan dialog juga menjadi kunci. OJK bersama BEI membuka ruang komunikasi yang intens dengan industri dan seluruh pemangku kepentingan, guna mengidentifikasi risiko sejak dini serta mengantisipasi dampak yang tidak diinginkan. Transisi diharapkan berjalan sehat, tanpa menimbulkan disrupsi maupun tekanan berlebihan di pasar.
Sebagai bentuk dukungan konkret, BEI telah merencanakan pembentukan helpdesk dan tim khusus yang akan mendampingi Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) serta emiten tercatat dalam menyesuaikan diri dengan kebijakan baru ini. Di sisi lain, AEI menyatakan komitmennya untuk aktif berkoordinasi dengan OJK dan BEI agar setiap agenda dan tahapan kebijakan berjalan selaras.
Ke depan, OJK meyakini free float yang lebih tinggi akan meningkatkan minat investasi, khususnya dari investor asing, memperbesar peran publik dalam struktur kepemilikan, serta mendorong lahirnya perusahaan tercatat baru yang memenuhi standar internasional. Lebih dari itu, kebijakan ini diharapkan menjadi katalis bagi penguatan tata kelola, transparansi, dan pendalaman pasar modal Indonesia secara berkelanjutan.
Klasifikasi Investor
Menyikapi hal ini, OJK resmi memperkenalkan klasifikasi investor yang lebih rinci atau granular. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi standar Indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta meningkatkan transparansi kepemilikan saham di pasar modal Indonesia. Hasan Fawzi menjelaskan bahwa data yang selama ini dikelola Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan dikembangkan secara lebih mendalam.
Sebelumnya, data investor hanya terbagi dalam 9 tipe utama saja. Kini, klasifikasi tersebut diperinci menjadi 27 subtipe investor. Kebijakan ini bertujuan memunculkan kredibilitas pengungkapan beneficial ownership atau pemilik manfaat sebenarnya dari kepemilikan setiap saham. "Tadi, kan ada 9 kelompok utama, mulai dari individual, lalu perusahaan efek, mutual fund, dan seterusnya. Sampai ke others, gitu kan? Nah, untuk meyakinkan bahwa ada tingkat transparansi yang lebih granular, lebih terlihat rinci, dan memenuhi keinginan dari salah satu index provider global, MSCI, nanti diklasifikasikan lagi dengan subtipe investornya, lebih rinci," ujar Hasan.
Adapun 27 subtipe tersebut mencakup berbagai entitas investasi dan organisasi. Beberapa di antaranya adalah Private Equity, Trustee Bank, Venture Capital, Government, Sovereign Wealth Fund, serta Investment Advisors.
Ada pula kategori Brokerage Firms, Private Bank, Investment Fund Selling Agent, hingga State Owned Enterprises. Selain itu, terdapat klasifikasi untuk Permanent Establishment, Limited Partnership, Firm, Peer-to-Peer Lending, serta Sole Proprietorship.
Daftar ini juga mencakup State Owned Company, Public Corporate, Social Organizations, Central Bank, Diocese, Conference, dan Congregation. Kategori lainnya melibatkan Cooperatives, International Organization, Political Parties, Partnership, serta Educational Institution.
Menurut Hasan, perincian ini akan sangat membantu MSCI dalam menentukan bobot sebuah saham dalam indeks mereka. Ketersediaan informasi yang jelas menjadi kunci bagi investor global untuk mempertimbangkan investasi di Indonesia. "Penting buat mereka ada informasinya jelas, sehingga mereka bisa punya kecukupan informasi," ujar Hasan Fawzi.
Selain rincian tersebut, OJK juga mendorong adanya rekapitulasi terkait klasifikasi investor berdasarkan kemungkinan afiliasi. Data ini akan menunjukkan seberapa besar porsi saham yang dimiliki oleh pihak terafiliasi, termasuk jajaran direksi dan komisaris. "Jadi, misalnya nanti juga ada klasifikasi investor yang merupakan recapnya, yang kita provide juga nanti ke publik dan ke MSCI. Misalnya, berapa yang afiliasi, terindikasi, terafiliasi," jelas Hasan.
Informasi ini sangat krusial bagi MSCI untuk menghitung indeks. Hasan menambahkan bahwa perincian ini akan mencakup status kontroler hingga kepemilikan pemerintah. "Berarti kan itu nanti untuk dasar, jika dipertimbangkan mau diikutkan atau tidak dalam rangka perhitungan indeksnya. Silakan aja. Nah, yang penting kan buat mereka ada informasinya jelas, sehingga mereka bisa punya kecukupan informasi apakah dia akan consider diikutkan atau tidak," tegasnya.
Kebijakan baru ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan dengan pihak MSCI pada Senin sore (2/2/2026). Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan OJK, Self-Regulatory Organization (SRO), dan Danantara.
Tokoh yang hadir dalam pertemuan itu antara lain Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik dan Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat. Turut hadir pula Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir.
Saat ini, OJK telah menginstruksikan KSEI untuk segera melakukan sosialisasi kepada seluruh partisipan. Nantinya, para partisipan inilah yang bertugas mengisi serta melengkapi data investor secara lebih rinci.
Optimisme Pelaku Pasar Modal
Sejumlah pelaku pasar modal asal Jawa Timur masih optimis pasar modal kembali bergeliat dalam beberapa hari terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun akhir-akhir ini diyakini akan kembali naik didorong oleh fundamental ekonomi domestik yang kokoh.
Menurut Mahdi Kherid, founder Profit Community, meskipun IHSG sempat terkoreksi tajam, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan membuka peluang indeks untuk kembali menguat. “Karena ekonomi kita fundamentalnya kuat, sebagai pelaku pasar modal, kami yakin IHSG akan semakin menguat kembali,” ujar Mahdi dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, kondisi perekonomian domestik yang relatif solid, didukung data makro dan kinerja sektor usaha utama Indonesia, menjadi pilar utama yang bisa menopang pergerakan IHSG.
Mahdi juga menilai bahwa respons pemerintah dan otoritas pasar terhadap tekanan indeks sejauh ini menunjukkan langkah strategis yang bisa menahan tekanan lebih dalam. Ia menyoroti pengisian posisi kosong di pucuk pimpinan regulator. “Akan ada tindakan strategis, seperti Kepala dan Wakil OJK yang mundur sudah terisi,” tambahnya, merujuk pada pengisian posisi strategis di lembaga pengawas pasar modal.
Adapun pelaku pasar modal di komunitasnya, meski ada yang sedikit panik, mayoritas tetap menunjukkan sentimen positif. Pria yang juga pengusaha di bidang konveksi ini melihat penurunan sebagai kesempatan. "Saat turun waktunya beli saham, jadi kita selalu santai dan optimis saja," imbuh Mahdi.
Peluang Rebound Jangka Pendek
Hal senada disampaikan oleh Hasan, seorang trader pasar modal Indonesia kelahiran Lawang, Kabupaten Malang yang sudah berpengalaman memantau pergerakan saham. Menurut Hasan, sentimen teknikal mulai menunjukkan adanya peluang rebound jangka pendek, terutama ketika indikator fundamental menunjukkan daya dukung ekonomi yang positif. “Secara teknikal, momentum pembalikan arah bisa terjadi kalau pembeli mulai masuk lagi pada level-level support penting,” ujar Hasan.
Ia menambahkan bahwa volatilitas yang tinggi justru membuka peluang bagi investor yang tangkas membaca pola pasar.
Meskipun ada optimisme dari pelaku pasar daerah, catatan penting bagi investor adalah volatilitas yang masih tinggi. Kejatuhan IHSG belakangan ini juga dipicu oleh mundurnya empat petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dirut BEI pada akhir pekan lalu, yang sempat membuat pasar gelisah.
Meski OJK dan BEI sudah menetapkan pejabat pengganti dan dikabarkan akan bertemu pihak MSCI, IHSG pagi ini masih belum bisa bangkit. Hal ini ditengarai akibat rencana Danantara masuk ke BEI, sebagaimana diungkapkan Menko Airlangga Hartarto pekan lalu.
Analis pasar modal sekaligus founder Traderindo, Wahyu Laksono, menilai langkah pemerintah saat ini masih diuji oleh sentimen global, terutama terkait tenggat waktu dari MSCI. "Pasar masih cemas jelang deadline MSCI. Isu ancaman turun kelas IHSG. Jadi, sentimen langkah-langkah pemerintah belum cukup meyakinkan investor," kata Wahyu Laksono.
Investor kini diimbau untuk terus mencermati data ekonomi terbaru, kebijakan pemerintah, serta dinamika global yang akan memengaruhi arah gerak IHSG ke depan.
AEI Dukung Penguatan Aturan Pasar Modal
Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyatakan dukungan penuh terhadap berbagai arahan dan pengaturan yang diterapkan regulator pasar modal Indonesia. AEI menilai sinergi antara regulator, Self-Regulatory Organization (SRO), bursa, dan para emiten menjadi kunci untuk mewujudkan pasar modal Indonesia berstandar internasional.
Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Armand Wahyudi Hartono, mengatakan pihaknya mengapresiasi keterbukaan regulator yang telah mendengarkan berbagai masukan dari emiten di Indonesia. "AEI mendukung penuh arahan-arahan dari pengaturan yang ada. Kami juga mengucapkan terima kasih karena masukan dari para emiten sudah didengarkan," ujar Armand.
Menurutnya, AEI memiliki misi untuk bersama-sama membangun pasar modal Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan harus berjalan seiring dan selaras. "Kami ingin bekerja sama dengan SRO, dengan pasar, dengan para emiten untuk membangun pasar modal Indonesia yang kelas dunia dan berstandar internasional. Tentunya ini harus satu jalan dengan SRO, dengan Bursa, dan dengan OJK," jelasnya.
Terkait rencana peningkatan porsi saham yang beredar di publik (free float), Armand menilai kebijakan tersebut merupakan langkah positif dan patut didukung. Namun, ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam implementasinya. "Untuk membuat jumlah saham yang floating menjadi lebih besar, tentu arahnya baik dan kami dukung, misalnya di angka 15 persen. Masukan kami juga sudah didengar bahwa peningkatan floating ini sangat bergantung pada kemampuan pasar dalam menyerapnya," kata petinggi BCA tersebut.
Ia menambahkan bahwa kecocokan antara emiten dan investor menjadi faktor krusial agar kebijakan peningkatan free float tidak menimbulkan tekanan berlebihan di pasar. "Karena itu, kebijakan ini harus dilakukan dengan hati-hati dan bersama-sama, dengan mempertimbangkan kondisi pasar serta kebutuhan seluruh pihak," pungkas Armand Hartono.
Penulis: Ismadi Amrin. Redaktur: Kristantyo Wisnubroto. Sumber: https://indonesia.go.id/berita/detail/arah-baru-pasar-modal-indonesia-disiapkan